Pelatihan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dalam Program Pemberdayaan UMKM Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Bengkalis

Main Article Content

Welly Wirman
Anuar Rasyid
Tantri Puspita Yazid
Hevi Susanti

Abstract

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sektor UMKM menghasilkan 59,84% dari PDB pada tahun 2017 dan diharapkan memberikan kontribusi 60% pada tahun 2018. Dari 61,7 juta unit usaha pada tahun 2019 menjadi 62,9 juta unit usaha pada tahun 2019, UKM meningkat sebesar 2,06% atau 1.2 juta. Pada tahun 201, sektor UMKM menyerap hingga 116,6 juta tenaga kerja atau 97,02% dari seluruh tenaga kerja. (2019, Adithya Prabowo) Kehadiran revolusi industri keempat dan society 5.0 diprediksi akan menciptakan nilai-nilai yang baik bagi UMKM untuk berkembang secara mandiri dan dimampukan oleh pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan masyarakat umum. Kemudahan teknologi digital di  revolusi industri dapat dimanfaatkan oleh masyarakat mendirikan kegiatan UMKM di pedesaan yang jauh dari perkotaan yang infrastruktur teknologi komunikasinya kurang. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mencanangkan Rencana Strategis Konektivitas Pita Lebar Nasional 2015-2019, salah satunya implementasi Aplikasi Sistem Informasi Desa dan Wilayah (SIDEKA) di 1.000 desa. Teknologi komunikasi dapat menjangkau daerah pedesaan, sehingga revolusi industri keempat memberikan peluang bagi pengembangan UMKM dan pengembangan potensi di pedesaan, khususnya kearifan lokal.


UMKM Bengkalis diharapkan dapat mandiri dalam memasarkan dan mengelola usahanya, menjadi SDM yang handal untuk melatih UMKM lainnya di Kabupaten Bengkalis, sehingga konsep networking ini dapat merambah ke masyarakat lain sehingga bahwa mereka dapat belajar dari satu sama lain untuk menguasai digital. Tim dapat membantu pembentukan komunitas untuk meningkatkan kesadaran pentingnya ciri khas produk dan produk berbasis kearifan lokal; anggota juga dapat membantu anggota lain yang kesulitan dalam menangkap digital; besar harapan untuk mandiri dengan anggota pelaku usaha meningkatkan pembinaannya. Untuk memaksimalkan pengembangan kompetensi, pendekatan pembinaan dilakukan secara offline dan online, memungkinkan mereka beradaptasi dan ahli. Peserta akan belajar bagaimana menggunakan berbagai alat digital sebagai alat pemasaran dan komunikasi.


Kegiatan pengabdian ini di laksanakan dari bulan juli hingga September tahun ini dan di harapkan nanti setelah mendapatkan pelatihan ini maka masyarakat akan konsen ke usaha yang berbasis kearifan lokal, Kemampuan pelaku usaha untuk berkomunikasi secara efektif membuat creative ciri khas produk atau produk kearifan lokal merupakan skill yang harus dikuasai yang besar, serta tergolong generasi baby boomer dan gen Z yang dulunya tidak akrab dengan teknologi selama tahun-tahun sekolah. Suka atau tidak suka, era digital saat ini menuntut setiap pelaku usaha, tanpa memandang usia, untuk belajar menguasai digital.

Article Details

Section
Artikel